Gamelan Menggema Saat Warga Jembrana Cari Lansia 83 Tahun yang Hilang

Berita222 Views

Gamelan Menggema Saat Warga Jembrana Cari Lansia 83 Tahun yang Hilang Pencarian seorang warga lanjut usia di Kabupaten Jembrana, Bali, menghadirkan perpaduan menarik antara operasi penyelamatan modern dan cara tradisional masyarakat setempat. Tim SAR menggunakan penyisiran darat serta drone thermal, sementara warga ikut bergerak mencari korban dengan membunyikan gamelan di sekitar ladang dan kawasan yang dicurigai menjadi jalur perjalanannya.

Lansia tersebut adalah Gusti Komang Suatra, berusia 83 tahun, warga Banjar Tibu Sambi, Desa Yeh Embang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana. Ia dilaporkan belum kembali setelah berpamitan menuju ladang pada Minggu, 6 September 2026 sekitar pukul 13.00 WITA. Hingga keesokan paginya, Suatra belum terlihat pulang sehingga keluarga dan warga mulai khawatir.

Pencarian akhirnya berakhir melegakan. Suatra ditemukan dalam kondisi selamat pada Senin sore, 7 September 2026, meski terlihat linglung. Lokasinya berada di sekitar jurang dengan sungai di bagian bawah, sekitar dua kilometer dari titik perkiraan awal hilangnya korban.

Berangkat ke Ladang pada Minggu Siang

Peristiwa bermula dari aktivitas yang sebenarnya biasa dilakukan masyarakat pedesaan. Gusti Komang Suatra meninggalkan rumah pada Minggu siang untuk menuju ladang.

Tidak ada keterangan awal yang menunjukkan sesuatu yang mencurigakan ketika pria berusia 83 tahun tersebut berangkat. Persoalan baru muncul setelah waktu berlalu dan ia tidak kunjung kembali.

Keluarga bersama masyarakat sekitar sempat melakukan pencarian secara mandiri. Area sekitar rumah, kebun, serta jalur yang diperkirakan biasa dilalui Suatra diperiksa, tetapi keberadaannya belum ditemukan.

Usia Suatra membuat keluarga mempunyai alasan kuat untuk segera memperluas pencarian. Seorang lansia yang tersesat di perkebunan atau kawasan berbukit memiliki risiko mengalami kelelahan, kehilangan orientasi, kekurangan cairan, jatuh, atau kesulitan kembali menuju jalan yang dikenalnya.

Pencarian kemudian dilaporkan kepada pihak berwenang agar dapat melibatkan personel dan peralatan yang lebih lengkap.

Laporan Masuk ke Petugas SAR Pukul 07.30 WITA

Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar menerima informasi mengenai warga yang belum kembali dari ladang pada Senin sekitar pukul 07.30 WITA.

Laporan tersebut disampaikan Komang Suartana yang merupakan anggota Polsek Mendoyo. Setelah menerima informasi, Pos Pencarian dan Pertolongan Jembrana menyiapkan personel untuk bergerak menuju lokasi.

Sekitar pukul 08.00 WITA, tujuh personel dari Pos Pencarian dan Pertolongan Jembrana diberangkatkan. Mereka menggunakan kendaraan Rapid Deployment Land SAR Unit serta Rescue Carrier Vehicle.

Tim tiba sekitar pukul 08.40 WITA. Koordinasi kemudian dilakukan bersama keluarga, kepolisian, perangkat desa, dan unsur lain yang ikut dalam pencarian.

Informasi warga menjadi dasar penting untuk menentukan arah penyisiran pertama.

Seseorang disebut sempat melihat Suatra bergerak menuju jalur tertentu. Berdasarkan keterangan awal tersebut, tim memusatkan pencarian ke arah tenggara dari rumah korban.

Drone Thermal Dikerahkan Menyisir Area Ladang

Tim SAR tidak hanya berjalan menyusuri ladang. Peralatan udara juga digunakan untuk memperluas area pemantauan.

Drone thermal diterbangkan sekitar pukul 09.10 hingga 09.30 WITA untuk melihat kawasan dari udara. Teknologi tersebut dapat membantu pencarian dengan mendeteksi perbedaan temperatur objek di permukaan.

Namun, penerbangan pertama belum menunjukkan posisi Suatra.

Penggunaan drone tidak otomatis menjamin seseorang dapat langsung ditemukan. Vegetasi, pepohonan, permukaan tanah, posisi tubuh, jarak, serta kondisi lingkungan dapat memengaruhi hasil pemantauan.

Tim karena itu tetap melakukan penyisiran fisik.

Personel berjalan melalui jalur yang dianggap mungkin dilewati korban sambil meminta informasi kepada masyarakat yang berada di sekitar ladang.

Teknologi digunakan sebagai alat bantu, sedangkan pemeriksaan langsung tetap menjadi bagian utama pencarian.

Arah Pencarian Kemudian Digeser ke Timur

Hasil pencarian pada pagi hari belum membuahkan hasil. Tim kemudian mengevaluasi informasi yang sudah dikumpulkan.

Sekitar pukul 12.30 WITA, penyisiran dilanjutkan menuju arah timur dari titik kejadian. Drone thermal kembali diterbangkan di beberapa area yang dinilai berpotensi menjadi lokasi Suatra.

Perubahan arah menjadi hal penting dalam operasi pencarian orang hilang.

Korban belum tentu berjalan mengikuti jalur yang sebelumnya diperkirakan. Lansia yang kehilangan orientasi juga dapat bergerak semakin jauh karena berusaha menemukan jalan pulang.

Medan perkebunan membuat pencarian semakin menantang.

Batas antara jalan kecil, semak, kebun, sungai, dan kawasan berbukit dapat terlihat jelas bagi warga yang mengenal wilayah tersebut. Namun, ketika seseorang mulai kebingungan, jalur yang biasa dikenal dapat terasa berbeda.

Warga Datang Membawa Gamelan Sekitar Pukul 14.00 WITA

Bagian yang paling menarik perhatian terjadi sekitar pukul 14.00 WITA.

Tim SAR gabungan bertemu dengan warga yang ikut melakukan pencarian menggunakan cara tradisional. Sejumlah warga membawa dan membunyikan gamelan sembari menyisir kawasan tersebut. Tim kemudian bergabung dengan masyarakat dan melanjutkan pencarian menuju bagian timur dari rumah Suatra.

Penggunaan gamelan dalam pencarian orang hilang bukan metode teknis yang menjadi bagian dari standar operasi SAR.

Cara tersebut merupakan inisiatif masyarakat yang berhubungan dengan kebiasaan lokal. Dalam sejumlah kasus orang hilang di Bali, warga juga pernah menggunakan bunyi gamelan saat menyisir suatu wilayah.

Pada Maret 2025, warga di Gianyar membunyikan gamelan ketika mencari seorang perempuan lanjut usia yang hilang. Ia kemudian ditemukan di pinggir sungai setelah pencarian gabungan dilakukan.

Pada April 2026, masyarakat di Kecamatan Rendang, Karangasem, juga melakukan pencarian seorang lansia dengan menyusuri wilayah sekaligus membunyikan gamelan. Kepolisian ketika itu menegaskan pencarian secara fisik tetap berlangsung bersama upaya masyarakat tersebut.

Bunyi Gamelan Tidak Menggantikan Metode SAR

Keikutsertaan warga dengan gamelan tidak berarti operasi pencarian kemudian bergantung pada suara alat musik.

Tim SAR tetap menggunakan pemetaan jalur, penyisiran darat, informasi saksi, serta pemantauan drone.

Tidak terdapat bukti dalam laporan resmi bahwa bunyi gamelan secara langsung menyebabkan lokasi Suatra ditemukan. Korban akhirnya terlihat oleh seorang warga yang sedang memancing di sekitar sungai.

Pembedaan tersebut penting agar tradisi masyarakat tidak dicampurkan dengan metode teknis penyelamatan.

Bagi warga, membunyikan gamelan dapat menjadi bagian dari kebiasaan yang diwariskan serta cara menggerakkan masyarakat dalam pencarian bersama. Dari sisi operasi, suara keras juga dapat membantu membuat keberadaan rombongan pencari lebih mudah diketahui seseorang yang masih sadar dan mampu mendengar.

Namun, keberhasilan pencarian tetap membutuhkan penyisiran lokasi secara nyata.

“Menurut penulis, kekuatan pencarian di Jembrana terlihat ketika teknologi dan keterlibatan warga berjalan berdampingan. Drone membantu melihat wilayah dari udara, sementara masyarakat memberikan pengetahuan mengenai jalur dan medan yang mereka kenal sejak lama.”

Jembrana Memiliki Hubungan Kuat dengan Musik Gamelan

Penggunaan gamelan dalam pencarian juga terasa dekat dengan identitas kebudayaan Jembrana.

Kabupaten di bagian barat Bali tersebut dikenal dengan kesenian Jegog, yakni gamelan berbahan bambu berukuran besar yang mempunyai karakter suara dalam dan kuat.

Catatan mengenai kesenian Jembrana menyebut Jegog berkembang sebagai salah satu seni musik khas daerah tersebut. Perangkatnya menggunakan bilah bambu dan berkembang luas melalui kelompok masyarakat di Jembrana.

Pada berbagai kegiatan budaya, gamelan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, mulai dari pertunjukan, kegiatan adat, hingga pertemuan sosial.

Karena itu, kemunculan gamelan dalam operasi pencarian warga tidak terlihat sebagai benda yang sama sekali asing bagi lingkungan setempat.

Namun, tidak ada keterangan resmi yang menjelaskan jenis perangkat gamelan apa yang digunakan warga dalam pencarian Suatra.

Korban Ditemukan Menjelang Sore

Setelah pencarian bergerak selama beberapa jam, kabar yang ditunggu akhirnya datang.

Sekitar pukul 15.40 WITA, seorang warga yang sedang memancing menemukan Suatra di sekitar kawasan sungai. Penemu tersebut diketahui bernama Dewa Ketut Wila.

Lokasi korban berada sekitar dua kilometer dari titik perkiraan awal hilangnya korban.

Koordinator Pos Pencarian dan Pertolongan Jembrana Dewa Hendri Gunawan menjelaskan lokasi tersebut berada pada area jurang dengan sungai di bawahnya.

Temuan itu sekaligus menjelaskan mengapa pencarian dari sekitar rumah tidak langsung menemukan Suatra.

Dalam waktu lebih dari satu hari, ia telah berada cukup jauh dari titik keberangkatan.

Jarak dua kilometer mungkin terdengar tidak terlalu jauh pada jalan perkotaan. Namun, di kawasan ladang, sungai, dan medan yang tidak rata, radius dua kilometer menghasilkan wilayah pencarian yang luas.

Pemancing Menjadi Orang Pertama yang Menemukan Suatra

Keberadaan seorang pemancing di sekitar sungai akhirnya menjadi titik penting.

Dewa Ketut Wila melihat Suatra kemudian memberikan informasi sehingga proses evakuasi dapat dilakukan.

Kejadian tersebut menunjukkan pentingnya keterlibatan warga selama pencarian.

Tim SAR mempunyai personel dan peralatan, tetapi masyarakat lokal tersebar di banyak titik. Petani, pencari rumput, pemancing, serta warga yang bekerja di sekitar wilayah dapat melihat area yang belum sempat dijangkau personel.

Informasi dari masyarakat juga dapat mempersempit pencarian.

Dalam kasus Suatra, penemuan justru terjadi ketika operasi resmi dan pencarian warga berlangsung secara bersamaan.

Hal serupa menjadi alasan aparat biasanya meminta masyarakat segera melaporkan temuan pakaian, barang, jejak, atau seseorang yang sesuai ciri korban, bukan bergerak sendiri tanpa koordinasi ketika medan dianggap berbahaya.

Suatra Ditemukan dalam Kondisi Linglung

Ketika ditemukan, Gusti Komang Suatra masih hidup dan disebut berada dalam keadaan selamat. Namun, pria 83 tahun itu terlihat linglung.

Tidak terdapat laporan bahwa ia mengalami cedera berat.

Petugas kemudian mengevakuasinya menuju rumah warga terdekat. Langkah awal dilakukan untuk memastikan kondisinya dan memudahkan koordinasi dengan keluarga serta perangkat desa.

Keadaan linglung perlu dipahami secara hati hati.

Belum ada keterangan medis yang menjelaskan penyebab kebingungan tersebut. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan apakah kondisi itu berasal dari kelelahan, usia, kehilangan orientasi, kekurangan cairan, atau penyebab lain.

Informasi yang tersedia hanya menyebut Suatra berada dalam kondisi selamat tetapi tampak kebingungan ketika ditemukan.

Lansia Memiliki Risiko Lebih Besar Ketika Tersesat

Kasus Jembrana kembali menunjukkan mengapa laporan orang hilang yang melibatkan lansia membutuhkan respons cepat.

Kemampuan fisik pada usia lanjut dapat berbeda antara satu orang dan lainnya. Ada lansia yang tetap aktif bekerja di kebun, tetapi kondisi tubuh dapat berubah ketika harus berjalan jauh dalam waktu panjang.

Medan berbukit juga meningkatkan risiko terjatuh atau bergerak ke arah yang semakin jauh.

Ketika hari mulai gelap, kemampuan mengenali jalur dapat semakin berkurang.

Suatra berangkat pada Minggu pukul 13.00 WITA dan baru ditemukan pada Senin sekitar pukul 15.40 WITA. Artinya, ia berada di luar rumah lebih dari 24 jam.

Waktu tersebut cukup panjang untuk membuat keluarga khawatir, terutama karena lokasi tujuannya merupakan ladang dan pencarian awal tidak langsung menemukan keberadaannya.

“Pencarian orang lanjut usia sebaiknya tidak menunggu terlalu lama ketika kebiasaan hariannya berubah. Informasi jam terakhir terlihat, pakaian, jalur yang biasa digunakan, dan kondisi fisik dapat sangat membantu petugas mempersempit area pencarian.”

Unsur Gabungan Terlibat dalam Operasi

Pencarian Suatra tidak hanya melibatkan satu lembaga.

Unsur yang tercatat ikut bergerak antara lain Pos Pencarian dan Pertolongan Jembrana, Polsek Mendoyo, Sat Brimob Batalyon C Gilimanuk, Babinsa Yeh Embang Kangin, Bhabinkamtibmas Yeh Embang Kangin, perangkat desa, keluarga, serta masyarakat setempat.

Susunan tersebut menunjukkan pencarian orang hilang di wilayah pedesaan membutuhkan koordinasi luas.

Petugas SAR mempunyai kemampuan penyelamatan, kepolisian membantu pengumpulan informasi, aparat desa memahami wilayah administratif, sementara warga mengenali jalan kecil dan bagian ladang yang tidak selalu tercatat dalam peta umum.

Keluarga juga mempunyai informasi mengenai kebiasaan korban.

Semakin cepat informasi tersebut digabungkan, semakin mudah tim menentukan titik mana yang harus diperiksa lebih dahulu.

Drone Thermal dan Pengetahuan Warga Saling Melengkapi

Operasi di Mendoyo memberikan gambaran bagaimana metode modern dan pengetahuan lokal dapat digunakan pada waktu yang sama.

Drone thermal memberi sudut pandang dari atas. Tim darat memeriksa bagian yang tidak terlihat melalui udara. Warga kemudian membantu menunjukkan jalur, sungai, kebun, serta bagian wilayah yang biasa dilalui Suatra.

Setiap metode mempunyai keterbatasan.

Drone dapat kesulitan ketika pandangan tertutup vegetasi. Personel darat membutuhkan waktu lebih panjang untuk menyisir wilayah luas. Sementara keterangan warga dapat berubah karena ingatan setiap saksi berbeda.

Karena itu, operasi pencarian jarang bergantung pada satu alat.

Informasi terus diperbarui berdasarkan hasil penyisiran. Ketika satu area dinyatakan tidak menemukan korban, perhatian dapat dialihkan menuju sektor berikutnya.

Tradisi Gamelan Pernah Muncul dalam Pencarian Lansia Lain di Bali

Cara warga Jembrana membunyikan gamelan bukan kali pertama dilaporkan dalam pencarian orang hilang di Bali.

Pada Maret 2025, keluarga dan masyarakat di Gianyar mencari Ni Made Seri, perempuan berusia 80 tahun yang tidak pulang setelah meninggalkan rumah. Warga menyisir wilayah sambil menabuh gamelan sejak malam. Tim gabungan kemudian menemukan Seri keesokan harinya di pinggir sungai.

Pada April 2026, pencarian terhadap I Wayan Mendep di Karangasem juga melibatkan masyarakat yang membunyikan gamelan di sekitar area pencarian.

Kesamaan tersebut menunjukkan cara tradisional masih hidup di sebagian masyarakat Bali.

Namun, tiap kejadian mempunyai hasil dan kondisi berbeda. Bunyi gamelan tidak dapat diperlakukan sebagai pengganti pelaporan kepada SAR, kepolisian, maupun BPBD.

Pada kasus Jembrana, warga tetap bekerja bersama petugas yang menggunakan metode pencarian terstruktur.

Korban Diserahkan Kembali kepada Keluarga

Setelah dievakuasi ke rumah warga terdekat, petugas berkoordinasi dengan perangkat desa serta keluarga.

Suatra kemudian dibawa pulang ke rumah. Tidak terdapat informasi bahwa ia harus menjalani evakuasi medis darurat setelah ditemukan.

Dengan korban sudah ditemukan dalam keadaan selamat, operasi SAR kemudian diusulkan untuk dihentikan.

Seluruh unsur gabungan yang ikut mencari dikembalikan ke kesatuan masing masing.

Pencarian yang berlangsung sejak pagi itu akhirnya selesai sekitar beberapa jam setelah warga mulai ikut menyisir dengan bunyi gamelan. Suatra ditemukan bukan oleh drone, melainkan oleh seorang pemancing yang berada di sekitar aliran sungai, sekitar dua kilometer dari titik awal pencarian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *